24 Juli 2011
Bersama hadirnya warna kuning keemasan di ufuk barat, sampailah sebuah
email.
Dear...
Dua
hari tidak memberimu kabar, sepertinya kau sangat mengkhawatirkan aku. Maafkan
aku yaa...
Seorang gedis menarik kedua belah bibirnya usai membaca email tersebut. Lincah,
jemarinya menari di atas lap top.
Dear...
Aku tidak apa-apa, kusarankan jangan terlalu percaya
diri. Aku tak kan peduli kalau kau tak peduli padaku!
Layar laptop masih dalam proses loading
saat sebuah panggilan menderingkan handphone Sika.
“Halo,” Sika menyapa lebih dulu.
“Halo sayang,”
“Mmmm..”
“Kok cuma mmm, kamu nggak kangen sama aku? Atau kamu marah?” Andrian
menebak-nebak.
“Marah? Untuk apa?”
“Maaf ya, aku baru mengabari, beberapa hari ini aku sangat sibuk.”
“Iya, aku mengerti. Aku bukan tipe orang yang mudah cemburu.” Sika berusaha
menjelaskan.
“Makasih sayang. Nah, sekarang aku aku mau curhat sama kamu.” Andrian
merengek.
“Mmm, kurasa aku memang punya telinga untuk mendengar, jadi katakan saja.”
Diam sejenak. Hanya terdengar nafas keduanya yang beradu.
“Aku,” kalimat Andrian menggantung.
“Ya?”
“Sayang, kamu kenapa?” Suara Andrian terdengar khawatir. Sementara Sika
terisak-isak menahan tangis.
Jaringan putus. Sika membanting telephon genggamnya ke kasur.
“Brengsek!” kata Sika di sela isakannya. Nafasnya sampai terengah-engah
menahan tangis. Sekarang tangisan itu mengalir tanpa beban.
***
30 Desember 2010
Aku tak tahu siapa dia,
Aku
menganggapnya kakak, tapi hatiku tak mau seringan itu.
Mungkin aku menyayanginya sebagai orang lain.
1 Januari 2011
Sepotong chesecake merekatkan
kami.
Di atas, sorot jingga di ufuk barat, di bawah ada kolam
ikan mas kecil menyejukkan sore kami.
Saat itu aku tahu dia
Penampilannya menipuku, dia tidak bisa bermain gitar!
Jadi sore ini aku bemain gitar dan bernyanyi bersamanya.
“You open up my
heart, show me all yaur love.....”
Kurasa itu sore terindah di sepanjang umurku di dunia
ini.
Sekarang aku tahu seperti apa aku dan dia,
I think I’m in love...
21 Januari 2011
Dear
diary,
Dia bilang cinta kami cinta dewasa,
Jadi apa yang kau pikirkan tentangnya?
Kalau aku, aku setuju. Aku memang tak pernah berrencana
menikah muda, tapi aku juga tak suka pacaran basa-basi terlalu panjang.
Cinta kami cina dewasa, cukup aku dan dia saja.
Fine!
Aku setuju..
22 Februari 2011
Yeahh, my
birth day.....
Sebuah brownis berhias api putih lilin. Kejutan kecil
yang manis, aku suka.
Aku benar-benar suka kejutan.
Ohh God, Really,
I’m in love!
Aku mencintainya dengan segenap kedewasaan yang dia
ajarkan padaku.
Sekarang aku percaya takdirku bersamaku.
Thanks
God.
***
Sika tengah asik dengan
gitarnya saat sebuah panggilan menyala-nyalakan monitor handphone. Sika
menoleh, kemudian menyautnya.
“Halo,”
“Halo, maaf bisa bicara dengan mbak Sika?” suara dari seberang terdengar
sopan.
“Iya, saya sendiri. Ini siapa ya?”
“Saya Lisa.”
“Lisa?” tanya Sika penasaran. Setelah sekian detik diam, Sika kembali
menyapa, “Halo,”
“Ma’af mbak. Boleh saya bertanya, kira-kira bagaimana perasaan mbak kalau
punya suami yang sering jalan sama perempuan lain?”
“Maksudnya?” Sika meletakkan gitar yang sejak tadi masih di pangkuannya.
“Mbak Sika, saya sedang bicara sebagai seorang wanita yang suaminya punya
kekasih lain.” Nafas Lisa terdengar jelas di speaker handphone Sika.
“Saya mohon mbak,”
“Tunggu deh, ini maksudnya apa? Yang jelas dong!” Sika mulai kesal.
“Saya tidak bermaksud menuduh mbak, tapi saya minta tolong sama mbak jauhi
suami saya.”
“Maksudnya?”
“Tolong jauhi mas Andrian, saya mohon!”
“Hah? Jangan bercanda deh, saya tahu Andrian. Dia itu sosok pria dewasa
yang rapuh. Jadi bagaimana saya bisa percaya begitu saja?”
“Tapi saya memang istrinnya mbak.”
“Bagaimana kalau saya tidak percaya?” jawab Sika santai, dia sempatkan
menekan tombol merah di handphone-nya sebelum meletakkan kembali ke meja.
Andrian memainkan aku? Ini
konyol! Pikirnya. Dengan santai dia kembali pada gitarnya yang sudah menunggu
dipetik.
Tepat di reff pertama lagu Grenade milik Bruno mars, jari-jari Sika terhenti. Bagaimana kalau
wanita itu benar?
Sika setengah berlari menuju kamar, menyambar jaket dan tas selempang
kesayangannya. Tidak ketinggalan dia menyaut Hp dari meja tempat dia
meninggalkan gitar akustiknya. Dia menarikan jarinya yang lincah di atas Hp,
menulis sebuah pesan singkat.
***
Gerimis kembali menyerang,
tapi bagus karena itu berarti di jalanan hanya ada bau hujan yang khas tanpa
polusi.
Sika memarkirkan maticnya
di depan rumah Boni. Dua bulan lalu, sebelum kenal Andrian, Sika cukup dekat
denga Boni yang ternyata patner kerja Andrian.
“Sore tante, Boninya ada?” sapa Sika pada ibu Boni yang duduk santai
menikmati gerimis.
“Ada, masikaja Sik, tante lagi pewe
nih.”
“Oh, itu Boni. Makasih tan.”
“Masuk Sik!” Sika tersenyum, ia mengambil sisi sudut sofa yang dekat dengan
posisi Boni duduk agar lebih mudah saat bicara.
“Gue pengen tahu sesuatu tentang Andrian.” Sika mengawal pembicaraan.
“Maksudnya? Bukannya lo lebih dekat sama dia sekarang?”
“Masalahnya gue baru dapat semacam shocking
therapy dari seorang cewek yang mengaku sebagai isrinya.” Sika mendetailkan
penjelasannya.
“Terus lo percaya?”
“Menurut lo?” Sika mengembalikan pertanyaan Boni.
“Terserah,” Boni mengangkat bahunya.
“Maksudnya?”
“Ya, terserah kamu mau percaya atau
enggak.” Jawab Boni.
“Jangan nggantung gitu dong Bon, gue serius neh!” protes Sika.
“Gue nggak ada maksud menggantung, tapi dia minta cuti nikah untuk beberapa
hari ini.”
“Apa? Cuti nikah?”
Boni memainkan bahunya sekalai lagi. Hujan menghujam deras setelah sebilah
petir menyambar keheningan senja.
“Hujan Sik, aku masukin motor sebentar ya,” pamit Boni tergesa-gesa.
Apa ini, takdir?
Sepasang mata itu berkaca-kaca, kemudian mulai meneteskan air. Wajahnya tak
ada ekspresi, mulutnya pun diam tanpa sepatah kata, hanya hatinya yang gemuruh
tak jelas.
“Sika,” bisik Boni saat kembali.
***
23 Juli
2011
Aku pernah bilang suka kejutan!
Dan ini pertama kalinya aku benci! Aku benci kejutan ini!
***
24 Juli 2011
Warna jingga di ufuk barat sudah habis di telan
gelap, udara malam mulai menyapa penuh lembap. Sebuah email masuk.
Dear Sika,
Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis dan menutup
telephon?
Sungguh, aku minta maaf karena belum bisa kembali sayang.
Please angkat telephonku, jangan
membuatku khawatir. Balas ya, please...
Sika mengusap air mata di pipinya. Boni benar,
takdir memang tak pernah betah belama-lama bersama seseorang. Pikir Sika.
Lincah jarinya menari di atas lap top.
Dear,
Andrian, aku tak apa-apa. Jangan menghawatirkan aku lagi,
sebelum kau datang aku baik-baik saja. Sekarang pun aku tatap baik.
Aku melepaskanmu....
-Sika-
makin keren cerpenmu
BalasHapusmengenang haje! heemmm yang kali ini pasti bisa bls!
BalasHapus