:) assalamu'alaikum, anyeong haseyo...

Senin, 14 Mei 2012

TAKDIR DI UFUK SENJA


24 Juli 2011
Bersama hadirnya warna kuning keemasan di ufuk barat, sampailah sebuah email.

Dear...
Dua hari tidak memberimu kabar, sepertinya kau sangat mengkhawatirkan aku. Maafkan aku yaa...

Seorang gedis menarik kedua belah bibirnya usai membaca email tersebut. Lincah, jemarinya menari di atas lap top.

Dear...
Aku tidak apa-apa, kusarankan jangan terlalu percaya diri. Aku tak kan peduli kalau kau tak peduli padaku!

Layar laptop masih dalam proses loading saat sebuah panggilan menderingkan handphone Sika.
“Halo,” Sika menyapa lebih dulu.
“Halo sayang,”
“Mmmm..”
“Kok cuma mmm, kamu nggak kangen sama aku? Atau kamu marah?” Andrian menebak-nebak.
“Marah? Untuk apa?”
“Maaf ya, aku baru mengabari, beberapa hari ini aku sangat sibuk.”
“Iya, aku mengerti. Aku bukan tipe orang yang mudah cemburu.” Sika berusaha menjelaskan.
“Makasih sayang. Nah, sekarang aku aku mau curhat sama kamu.” Andrian merengek.
“Mmm, kurasa aku memang punya telinga untuk mendengar,  jadi katakan saja.”
Diam sejenak. Hanya terdengar nafas keduanya yang beradu.
“Aku,” kalimat Andrian menggantung.
“Ya?”
“Sayang, kamu kenapa?” Suara Andrian terdengar khawatir. Sementara Sika terisak-isak menahan tangis.
Jaringan putus. Sika membanting telephon genggamnya ke kasur.
“Brengsek!” kata Sika di sela isakannya. Nafasnya sampai terengah-engah menahan tangis. Sekarang tangisan itu mengalir tanpa beban.
***
30 Desember 2010
Aku tak tahu siapa dia,
Aku menganggapnya kakak, tapi hatiku tak mau seringan itu.                                  
Mungkin aku menyayanginya sebagai orang lain.
                                 
1 Januari 2011
Sepotong chesecake merekatkan kami.
Di atas, sorot jingga di ufuk barat, di bawah ada kolam ikan mas kecil menyejukkan sore kami.
Saat itu aku tahu dia
Penampilannya menipuku, dia tidak bisa bermain gitar!
Jadi sore ini aku bemain gitar dan bernyanyi bersamanya.
You open up my heart, show me all yaur love.....”
Kurasa itu sore terindah di sepanjang umurku di dunia ini.
Sekarang aku tahu seperti apa aku dan dia,
I think I’m in love...                   

21 Januari 2011
Dear diary,     
Dia bilang cinta kami cinta dewasa,
Jadi apa yang kau pikirkan tentangnya?
Kalau aku, aku setuju. Aku memang tak pernah berrencana menikah muda, tapi aku juga tak suka pacaran basa-basi terlalu panjang.
Cinta kami cina dewasa, cukup aku dan dia saja.
Fine!
Aku setuju..

22 Februari 2011
Yeahh, my birth day.....
Sebuah brownis berhias api putih lilin. Kejutan kecil yang manis, aku suka.
Aku benar-benar suka kejutan.
Ohh God, Really, I’m in love!
Aku mencintainya dengan segenap kedewasaan yang dia ajarkan padaku.
Sekarang aku percaya takdirku bersamaku.
Thanks God.
***
            Sika tengah asik dengan gitarnya saat sebuah panggilan menyala-nyalakan monitor handphone. Sika menoleh, kemudian menyautnya.
“Halo,”
“Halo, maaf bisa bicara dengan mbak Sika?” suara dari seberang terdengar sopan.
“Iya, saya sendiri. Ini siapa ya?”
“Saya Lisa.”
“Lisa?” tanya Sika penasaran. Setelah sekian detik diam, Sika kembali menyapa, “Halo,”
“Ma’af mbak. Boleh saya bertanya, kira-kira bagaimana perasaan mbak kalau punya suami yang sering jalan sama perempuan lain?”
“Maksudnya?” Sika meletakkan gitar yang sejak tadi masih di pangkuannya.
“Mbak Sika, saya sedang bicara sebagai seorang wanita yang suaminya punya kekasih lain.” Nafas Lisa terdengar jelas di speaker handphone Sika.
“Saya mohon mbak,”
“Tunggu deh, ini maksudnya apa? Yang jelas dong!” Sika mulai kesal.
“Saya tidak bermaksud menuduh mbak, tapi saya minta tolong sama mbak jauhi suami saya.”
“Maksudnya?”
“Tolong jauhi mas Andrian, saya mohon!”
“Hah? Jangan bercanda deh, saya tahu Andrian. Dia itu sosok pria dewasa yang rapuh. Jadi bagaimana saya bisa percaya begitu saja?”
“Tapi saya memang istrinnya mbak.”
“Bagaimana kalau saya tidak percaya?” jawab Sika santai, dia sempatkan menekan tombol merah di handphone-nya sebelum meletakkan kembali ke meja.
            Andrian memainkan aku? Ini konyol! Pikirnya. Dengan santai dia kembali pada gitarnya yang sudah menunggu dipetik.
            Tepat di reff pertama lagu Grenade milik Bruno mars, jari-jari Sika terhenti. Bagaimana kalau wanita itu benar?
Sika setengah berlari menuju kamar, menyambar jaket dan tas selempang kesayangannya. Tidak ketinggalan dia menyaut Hp dari meja tempat dia meninggalkan gitar akustiknya. Dia menarikan jarinya yang lincah di atas Hp, menulis sebuah pesan singkat.
***
            Gerimis kembali menyerang, tapi bagus karena itu berarti di jalanan hanya ada bau hujan yang khas tanpa polusi.
            Sika memarkirkan maticnya di depan rumah Boni. Dua bulan lalu, sebelum kenal Andrian, Sika cukup dekat denga Boni yang ternyata patner kerja Andrian.
“Sore tante, Boninya ada?” sapa Sika pada ibu Boni yang duduk santai menikmati gerimis.
“Ada, masikaja Sik, tante lagi pewe nih.”
“Oh, itu Boni. Makasih tan.”
“Masuk Sik!” Sika tersenyum, ia mengambil sisi sudut sofa yang dekat dengan posisi Boni duduk agar lebih mudah saat bicara.
“Gue pengen tahu sesuatu tentang Andrian.” Sika mengawal pembicaraan.
“Maksudnya? Bukannya lo lebih dekat sama dia sekarang?”
“Masalahnya gue baru dapat semacam shocking therapy dari seorang cewek yang mengaku sebagai isrinya.” Sika mendetailkan penjelasannya.
“Terus lo percaya?”
“Menurut lo?” Sika mengembalikan pertanyaan Boni.
“Terserah,”  Boni mengangkat bahunya.
“Maksudnya?”
 “Ya, terserah kamu mau percaya atau enggak.” Jawab Boni.
“Jangan nggantung gitu dong Bon, gue serius neh!” protes Sika.
“Gue nggak ada maksud menggantung, tapi dia minta cuti nikah untuk beberapa hari ini.”
“Apa? Cuti nikah?”
Boni memainkan bahunya sekalai lagi. Hujan menghujam deras setelah sebilah petir menyambar keheningan senja.
“Hujan Sik, aku masukin motor sebentar ya,” pamit Boni tergesa-gesa.
            Apa ini, takdir?
Sepasang mata itu berkaca-kaca, kemudian mulai meneteskan air. Wajahnya tak ada ekspresi, mulutnya pun diam tanpa sepatah kata, hanya hatinya yang gemuruh tak jelas.
“Sika,” bisik Boni saat kembali.
***
23 Juli 2011         
Aku pernah bilang suka kejutan!
Dan ini pertama kalinya aku benci! Aku benci kejutan ini!
***
24 Juli 2011
Warna jingga di ufuk barat sudah habis di telan gelap, udara malam mulai menyapa penuh lembap. Sebuah email masuk.

Dear Sika,
Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis dan menutup telephon?
Sungguh, aku minta maaf karena belum bisa kembali sayang. Please angkat telephonku, jangan membuatku khawatir. Balas ya, please...
Sika mengusap air mata di pipinya. Boni benar, takdir memang tak pernah betah belama-lama bersama seseorang. Pikir Sika. Lincah jarinya menari di atas lap top.

Dear,
Andrian, aku tak apa-apa. Jangan menghawatirkan aku lagi, sebelum kau datang aku baik-baik saja. Sekarang pun aku tatap baik.
Aku melepaskanmu....
-Sika-

2 komentar: