NAUSEOUS
Qaireen Dhia
Ia masih duduk, menunduk, tersungkur dalam kesalahan. Rambutnya berserak menutupi wajahnya melambai terbawa angin sore. Langit mendung hitam, ia masih tertunduk. Bagai orang gila.
"Aku hanya takut dia ayahnya. Jangan salahkan aku, aku mohon!"
Matanya redup seperti mengantuk, merah, pucat, sayu dan layu. Berkali-kali ia menelan ludah dan mendesah. Tenggorokan itu kering bagai kemarau, perut itu kosong. Benar-benar kosong, hampir kering. Percuma, ludah yang ditelannya habis, habis begitu sampai di tenggorokan. Perut itu tetap kosong. Benar-benar kosong, sekosong tatapan matanya, sekosong hatinya, sekosong jiwanya. Ia lapar, hatinya lapar.
"Aku hanya membunuh makhluk tak beradap! Dan dia lah yang berikutnya!"
Seperti orang gila. Ia hanya sendiri. Persetan dengan mobil, truk, angkot, bajai, becak atau apapun berlalulalang. Dia seperti orang gila. Rambut lurus itu menggimbal begitu cepat, secepat arus air sungai dihadapannya. Badanya kotor menjijikkan, lebih kotor dari sampah yang terus ditatapnya. Tubuh muda itu bau, sungguh bau bak aroma kali persinggahannya.
"Bayi itulah kekejaman di masa depan!" ia terisak.
Ia terus sendiri. Tidak ada yang peduli. Hanya langit. Ya, hanya langit yang mengerti. Hujan turun deras. Sangat deras. Ia tak lagi haus kini. Ludah yg ditelannya sampai ke perut dg cepat. Secepat kilat. Meskipun begitu ia tak mampu tersenyum, ia bahkan sudah lupa caranya bersenyum.
"Yang kubunuh itu adalah.....,"
Tubuh kotor itu berangsur membersih. Piama hajau mudanya juga mulai layak disebut pakaian. Hanya tersisa noda cokelat ah bukan! Merah tua, ya benar merah tua. Darah kering itu tak luntur, tidak mau luntur meski diterpa hujan begitu deras sekalipun.
"Aku pembunuh!" jeritnya pedih.
Matanya berkedip pelan. Ia tak menyeka wajahnya sekalipun. Sedikitpun. Ia membiarkan langit yg membasuhnya, membiarkan hujan menyetubuhinya. Ia pasrah. Bukan! Sama sekali bukan! Bagaimanalah?
Matanya berkedip sekali lagi. "Aku yang membunuhnya," air mata jatuh bersama derasnya air hujan yang mendera.
"Aku yang membunuh bayiku."
Badai dan kilat menyambar beriringan. Sudah gelap. Sudah malam. Saatnya pulang.
Pulang?
Pulang kemana? Jangan bercanda!
Ia bahkan lupa kalau dia pernah punya rumah. Inilah rumahnya, bantaran sungai ibu kota. Hitam, bau dan menjijikkan. Di bawah rumah kosong yang megah. Hanya langit rumahnya. Hanya dosa keluarganya. Sebuah kepuasan yang dia punya. seuah kepuasan juga sedikit kesedihan. Puas dan sedih yang membuatnya semakin sakit . Sakit yang mungkin akan ia bawa selamanya, sampai nanti, sampai mati. Bukan! Sampai kiamat, ya sampai ke neraka.
"Akulah pembunuh itu! Jangan mengutuk ku! Dia hanya setan yang tak tampak setan!"
Petir menggelegar. Malam semakin gelap, hujan terus deras. Tubuh itu menggigil biru. Bergetar, semakin menggigil, semakin lemah, semakin Aaah! Jatuh. Terkapar kaku.
***
Malam itu duabelas bulan yang lalu, ya malam 13 Februari 2007. Saat jalanan sepi, saat Mona pulang dari salah satu restoran fastfood tempat ia bekerja di daerah Jakarta Selatan. Pukul 12:45 WIB. Seorang laki-laki kekar membuatnya ketakutan, dan kehilangan kehidupan normalnya. Mona dilecehkan!
Langit marah. Hujan turun. Petir menggelegar. "Demi Tuhan, kau segera mati!" Pekik Mona setengah merintih. Ia berserapah dalam tangis. Jika tuhan tak segera membunuhnya maka ia yang akan melakukannya. Apalagi? Hidupnya telah hancur, pernikahannya yang tinggl menghitung hari gagal.
Kejam!
Semua kejam!
Ia marah pada siapapun. Siapapun! "Aku bersumpah akan membunuhnya!"
Dua bulan, tiga bulan. Hal yang ia khawatirkan terjadi. "Aku tak kan sudi melahirkan janin ini! Cukup aku gadis malang. Tidak akan ada yang lain lagi!"
Seratus, seribu kali, berapalah? Mona terus berusaha menggugurkan kandungannya, tapi Tuhan adalah Tuhan. kuasa apa manusia terhadapNya.
Bayi laki-laki itu lahir premature, mungkin faktor kesehatan Mona yg terus menurun. Tidak ada periksa kehamilan, tidak ada cek kesehatan. Marah. Putus asa. Dendam.
***
"Aku yang membunuhnya!"
Setan menang. Berpesta. Bayi itu mati ditangan ibunya. Bayi laki-laki yang masih bersimpah darah segar. Tak ada yang tahu bagaimana Mona melakukannya. Tapi bayi itu telah dikuburkan.
"Tak kan ada gadis semalang aku lagi. Tidak akan ada!"
"Tuhan tak memberiku kesempatan untuk mengakhiri hidup lelaki itu, tapi aku telah membunuh yang satunya!"
Ah, andai dia tahu Tuhan tak pernah tidur.
:) assalamu'alaikum, anyeong haseyo...
Kamis, 26 April 2012
Rabu, 25 April 2012
subsidi mati
Cukupkan bicaramu, mari pakai otak saja.
Kau manusia, lalu aku bertanya "di mana otakmu?"
Apa di kaki, oh atau tidak sama sekali?
Adakah kau tukar dengan subsidi?
Tidak kah sama sekali?
Aku bernyanyi La..la..la...
Kau menyalakan api,
Aku meniti mimpi
Kau rajuki penguasa,
Aku kembali
Kau telah mati.
Tidak kah sama sekali?
Jadilah aku pertanyakan_lagi!
"Salah siapa?"
Tentu bukan aku!
Apa prajurit bersenjata?
Apa mereka yang duduk di kursi empuk?
Oh, mungkin setan bertopeng jelata...
Qaireen Dhia
Kau manusia, lalu aku bertanya "di mana otakmu?"
Apa di kaki, oh atau tidak sama sekali?
Adakah kau tukar dengan subsidi?
Tidak kah sama sekali?
Aku bernyanyi La..la..la...
Kau menyalakan api,
Aku meniti mimpi
Kau rajuki penguasa,
Aku kembali
Kau telah mati.
Tidak kah sama sekali?
Jadilah aku pertanyakan_lagi!
"Salah siapa?"
Tentu bukan aku!
Apa prajurit bersenjata?
Apa mereka yang duduk di kursi empuk?
Oh, mungkin setan bertopeng jelata...
Qaireen Dhia
Langganan:
Postingan (Atom)