:) assalamu'alaikum, anyeong haseyo...

Senin, 02 Juli 2012

entah bagaimana..

aku....

Kau pikir aku tak tahu kau siapa? Jangan berfikir lagi aku akan tergoda!
Meski sesekali hatiku masih terasa 'aneh' saat kau menyapa, tersenyum atau pamer keadaanmu yang sekarang. Sungguh, demi hati yang pernah kugantungkan padamu dan kau menanggalkannya, aku tak kan pernah kembali melihatmu dengan hati!
Kau jalani saja hidupmu, aku baik-baik saja sampai detik ini.



Minggu, 01 Juli 2012

andai

andai kau adalah mimpi
andai kau hanya hadir saat malam,
saat pagi atau saat apalah.
terserah
Asal bukan setiap saat.
aku akan mudah menguncimu dalam ruang gelap yang tiada mungkin aku singgah...
Agar kau tak lagi hadir
Agar aku tak perlu menangisi kepergian itu.

Senin, 14 Mei 2012

TAKDIR DI UFUK SENJA


24 Juli 2011
Bersama hadirnya warna kuning keemasan di ufuk barat, sampailah sebuah email.

Dear...
Dua hari tidak memberimu kabar, sepertinya kau sangat mengkhawatirkan aku. Maafkan aku yaa...

Seorang gedis menarik kedua belah bibirnya usai membaca email tersebut. Lincah, jemarinya menari di atas lap top.

Dear...
Aku tidak apa-apa, kusarankan jangan terlalu percaya diri. Aku tak kan peduli kalau kau tak peduli padaku!

Layar laptop masih dalam proses loading saat sebuah panggilan menderingkan handphone Sika.
“Halo,” Sika menyapa lebih dulu.
“Halo sayang,”
“Mmmm..”
“Kok cuma mmm, kamu nggak kangen sama aku? Atau kamu marah?” Andrian menebak-nebak.
“Marah? Untuk apa?”
“Maaf ya, aku baru mengabari, beberapa hari ini aku sangat sibuk.”
“Iya, aku mengerti. Aku bukan tipe orang yang mudah cemburu.” Sika berusaha menjelaskan.
“Makasih sayang. Nah, sekarang aku aku mau curhat sama kamu.” Andrian merengek.
“Mmm, kurasa aku memang punya telinga untuk mendengar,  jadi katakan saja.”
Diam sejenak. Hanya terdengar nafas keduanya yang beradu.
“Aku,” kalimat Andrian menggantung.
“Ya?”
“Sayang, kamu kenapa?” Suara Andrian terdengar khawatir. Sementara Sika terisak-isak menahan tangis.
Jaringan putus. Sika membanting telephon genggamnya ke kasur.
“Brengsek!” kata Sika di sela isakannya. Nafasnya sampai terengah-engah menahan tangis. Sekarang tangisan itu mengalir tanpa beban.
***
30 Desember 2010
Aku tak tahu siapa dia,
Aku menganggapnya kakak, tapi hatiku tak mau seringan itu.                                  
Mungkin aku menyayanginya sebagai orang lain.
                                 
1 Januari 2011
Sepotong chesecake merekatkan kami.
Di atas, sorot jingga di ufuk barat, di bawah ada kolam ikan mas kecil menyejukkan sore kami.
Saat itu aku tahu dia
Penampilannya menipuku, dia tidak bisa bermain gitar!
Jadi sore ini aku bemain gitar dan bernyanyi bersamanya.
You open up my heart, show me all yaur love.....”
Kurasa itu sore terindah di sepanjang umurku di dunia ini.
Sekarang aku tahu seperti apa aku dan dia,
I think I’m in love...                   

21 Januari 2011
Dear diary,     
Dia bilang cinta kami cinta dewasa,
Jadi apa yang kau pikirkan tentangnya?
Kalau aku, aku setuju. Aku memang tak pernah berrencana menikah muda, tapi aku juga tak suka pacaran basa-basi terlalu panjang.
Cinta kami cina dewasa, cukup aku dan dia saja.
Fine!
Aku setuju..

22 Februari 2011
Yeahh, my birth day.....
Sebuah brownis berhias api putih lilin. Kejutan kecil yang manis, aku suka.
Aku benar-benar suka kejutan.
Ohh God, Really, I’m in love!
Aku mencintainya dengan segenap kedewasaan yang dia ajarkan padaku.
Sekarang aku percaya takdirku bersamaku.
Thanks God.
***
            Sika tengah asik dengan gitarnya saat sebuah panggilan menyala-nyalakan monitor handphone. Sika menoleh, kemudian menyautnya.
“Halo,”
“Halo, maaf bisa bicara dengan mbak Sika?” suara dari seberang terdengar sopan.
“Iya, saya sendiri. Ini siapa ya?”
“Saya Lisa.”
“Lisa?” tanya Sika penasaran. Setelah sekian detik diam, Sika kembali menyapa, “Halo,”
“Ma’af mbak. Boleh saya bertanya, kira-kira bagaimana perasaan mbak kalau punya suami yang sering jalan sama perempuan lain?”
“Maksudnya?” Sika meletakkan gitar yang sejak tadi masih di pangkuannya.
“Mbak Sika, saya sedang bicara sebagai seorang wanita yang suaminya punya kekasih lain.” Nafas Lisa terdengar jelas di speaker handphone Sika.
“Saya mohon mbak,”
“Tunggu deh, ini maksudnya apa? Yang jelas dong!” Sika mulai kesal.
“Saya tidak bermaksud menuduh mbak, tapi saya minta tolong sama mbak jauhi suami saya.”
“Maksudnya?”
“Tolong jauhi mas Andrian, saya mohon!”
“Hah? Jangan bercanda deh, saya tahu Andrian. Dia itu sosok pria dewasa yang rapuh. Jadi bagaimana saya bisa percaya begitu saja?”
“Tapi saya memang istrinnya mbak.”
“Bagaimana kalau saya tidak percaya?” jawab Sika santai, dia sempatkan menekan tombol merah di handphone-nya sebelum meletakkan kembali ke meja.
            Andrian memainkan aku? Ini konyol! Pikirnya. Dengan santai dia kembali pada gitarnya yang sudah menunggu dipetik.
            Tepat di reff pertama lagu Grenade milik Bruno mars, jari-jari Sika terhenti. Bagaimana kalau wanita itu benar?
Sika setengah berlari menuju kamar, menyambar jaket dan tas selempang kesayangannya. Tidak ketinggalan dia menyaut Hp dari meja tempat dia meninggalkan gitar akustiknya. Dia menarikan jarinya yang lincah di atas Hp, menulis sebuah pesan singkat.
***
            Gerimis kembali menyerang, tapi bagus karena itu berarti di jalanan hanya ada bau hujan yang khas tanpa polusi.
            Sika memarkirkan maticnya di depan rumah Boni. Dua bulan lalu, sebelum kenal Andrian, Sika cukup dekat denga Boni yang ternyata patner kerja Andrian.
“Sore tante, Boninya ada?” sapa Sika pada ibu Boni yang duduk santai menikmati gerimis.
“Ada, masikaja Sik, tante lagi pewe nih.”
“Oh, itu Boni. Makasih tan.”
“Masuk Sik!” Sika tersenyum, ia mengambil sisi sudut sofa yang dekat dengan posisi Boni duduk agar lebih mudah saat bicara.
“Gue pengen tahu sesuatu tentang Andrian.” Sika mengawal pembicaraan.
“Maksudnya? Bukannya lo lebih dekat sama dia sekarang?”
“Masalahnya gue baru dapat semacam shocking therapy dari seorang cewek yang mengaku sebagai isrinya.” Sika mendetailkan penjelasannya.
“Terus lo percaya?”
“Menurut lo?” Sika mengembalikan pertanyaan Boni.
“Terserah,”  Boni mengangkat bahunya.
“Maksudnya?”
 “Ya, terserah kamu mau percaya atau enggak.” Jawab Boni.
“Jangan nggantung gitu dong Bon, gue serius neh!” protes Sika.
“Gue nggak ada maksud menggantung, tapi dia minta cuti nikah untuk beberapa hari ini.”
“Apa? Cuti nikah?”
Boni memainkan bahunya sekalai lagi. Hujan menghujam deras setelah sebilah petir menyambar keheningan senja.
“Hujan Sik, aku masukin motor sebentar ya,” pamit Boni tergesa-gesa.
            Apa ini, takdir?
Sepasang mata itu berkaca-kaca, kemudian mulai meneteskan air. Wajahnya tak ada ekspresi, mulutnya pun diam tanpa sepatah kata, hanya hatinya yang gemuruh tak jelas.
“Sika,” bisik Boni saat kembali.
***
23 Juli 2011         
Aku pernah bilang suka kejutan!
Dan ini pertama kalinya aku benci! Aku benci kejutan ini!
***
24 Juli 2011
Warna jingga di ufuk barat sudah habis di telan gelap, udara malam mulai menyapa penuh lembap. Sebuah email masuk.

Dear Sika,
Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis dan menutup telephon?
Sungguh, aku minta maaf karena belum bisa kembali sayang. Please angkat telephonku, jangan membuatku khawatir. Balas ya, please...
Sika mengusap air mata di pipinya. Boni benar, takdir memang tak pernah betah belama-lama bersama seseorang. Pikir Sika. Lincah jarinya menari di atas lap top.

Dear,
Andrian, aku tak apa-apa. Jangan menghawatirkan aku lagi, sebelum kau datang aku baik-baik saja. Sekarang pun aku tatap baik.
Aku melepaskanmu....
-Sika-

Kamis, 26 April 2012

NAUSEOUS

NAUSEOUS
Qaireen Dhia

    Ia masih duduk, menunduk, tersungkur dalam kesalahan. Rambutnya berserak menutupi wajahnya melambai terbawa angin sore. Langit mendung hitam, ia masih tertunduk. Bagai orang gila.
"Aku hanya takut dia ayahnya. Jangan salahkan aku, aku mohon!"
    Matanya redup seperti mengantuk, merah, pucat, sayu dan layu. Berkali-kali ia menelan ludah dan mendesah. Tenggorokan itu kering bagai kemarau, perut itu kosong. Benar-benar kosong, hampir kering. Percuma, ludah yang ditelannya habis, habis begitu sampai di tenggorokan. Perut itu tetap kosong. Benar-benar kosong, sekosong tatapan matanya, sekosong hatinya, sekosong jiwanya. Ia lapar, hatinya lapar.
"Aku hanya membunuh makhluk tak beradap! Dan dia lah yang  berikutnya!"
    Seperti orang gila. Ia hanya sendiri. Persetan dengan mobil, truk, angkot, bajai, becak atau apapun berlalulalang. Dia seperti orang gila. Rambut lurus itu menggimbal begitu cepat, secepat arus air sungai dihadapannya. Badanya kotor menjijikkan, lebih kotor dari sampah yang terus ditatapnya. Tubuh muda itu bau, sungguh bau bak aroma kali persinggahannya.
"Bayi itulah kekejaman di masa depan!" ia terisak.
    Ia terus sendiri. Tidak ada yang peduli. Hanya langit. Ya, hanya langit yang mengerti. Hujan turun deras. Sangat deras. Ia tak lagi haus kini. Ludah yg ditelannya sampai ke perut dg cepat. Secepat kilat. Meskipun begitu ia tak mampu tersenyum, ia bahkan sudah lupa caranya bersenyum.
"Yang kubunuh itu adalah.....,"
    Tubuh kotor itu berangsur membersih. Piama hajau mudanya juga mulai layak disebut pakaian. Hanya tersisa noda cokelat ah bukan! Merah tua, ya benar merah tua. Darah kering itu tak luntur, tidak mau luntur meski diterpa hujan begitu deras sekalipun.
"Aku pembunuh!" jeritnya pedih.
Matanya berkedip pelan. Ia tak menyeka wajahnya sekalipun. Sedikitpun. Ia membiarkan langit yg membasuhnya, membiarkan hujan menyetubuhinya. Ia pasrah. Bukan! Sama sekali bukan! Bagaimanalah?
Matanya berkedip sekali lagi. "Aku yang membunuhnya," air mata jatuh bersama derasnya air hujan yang mendera.
"Aku yang membunuh bayiku."
Badai dan kilat menyambar beriringan. Sudah gelap. Sudah malam. Saatnya pulang.
    Pulang?
    Pulang kemana? Jangan bercanda!
    Ia bahkan lupa kalau dia pernah punya rumah. Inilah rumahnya, bantaran sungai ibu kota. Hitam, bau dan menjijikkan. Di bawah rumah kosong yang megah. Hanya langit rumahnya. Hanya dosa keluarganya. Sebuah kepuasan yang dia punya. seuah kepuasan juga sedikit kesedihan. Puas dan sedih yang membuatnya semakin sakit . Sakit yang mungkin akan ia bawa selamanya, sampai nanti, sampai mati. Bukan! Sampai kiamat, ya sampai ke neraka.
"Akulah pembunuh itu! Jangan mengutuk ku! Dia hanya setan yang tak tampak setan!"
    Petir menggelegar. Malam semakin gelap, hujan terus deras. Tubuh itu menggigil biru. Bergetar, semakin menggigil, semakin lemah, semakin Aaah! Jatuh. Terkapar kaku.
***
    Malam itu duabelas bulan yang lalu, ya malam 13 Februari 2007. Saat jalanan sepi, saat Mona pulang dari salah satu restoran fastfood tempat ia bekerja di daerah Jakarta Selatan. Pukul 12:45 WIB. Seorang laki-laki kekar membuatnya ketakutan, dan kehilangan kehidupan normalnya. Mona dilecehkan!
    Langit marah. Hujan turun. Petir menggelegar. "Demi Tuhan, kau segera mati!" Pekik Mona setengah merintih. Ia berserapah dalam tangis. Jika tuhan tak segera membunuhnya maka ia yang akan melakukannya. Apalagi? Hidupnya telah hancur, pernikahannya yang tinggl menghitung hari gagal.
    Kejam!
    Semua kejam!
    Ia marah pada siapapun. Siapapun! "Aku bersumpah akan membunuhnya!"
    Dua bulan, tiga bulan. Hal yang ia khawatirkan terjadi. "Aku tak kan sudi melahirkan janin ini! Cukup aku gadis malang. Tidak akan ada yang lain lagi!"
Seratus, seribu kali, berapalah? Mona terus berusaha menggugurkan kandungannya, tapi Tuhan adalah Tuhan. kuasa apa manusia terhadapNya.
Bayi laki-laki itu lahir premature, mungkin faktor kesehatan Mona yg terus menurun. Tidak ada periksa kehamilan, tidak ada cek kesehatan. Marah. Putus asa. Dendam.
***
"Aku yang membunuhnya!"
    Setan menang. Berpesta. Bayi itu mati ditangan ibunya. Bayi laki-laki yang masih bersimpah darah segar. Tak ada yang tahu bagaimana Mona melakukannya. Tapi bayi itu telah dikuburkan.
"Tak kan ada gadis semalang aku lagi. Tidak akan ada!"
"Tuhan tak memberiku kesempatan untuk mengakhiri hidup lelaki itu, tapi aku telah membunuh yang satunya!"
Ah, andai dia tahu Tuhan tak pernah tidur.

Rabu, 25 April 2012

subsidi mati

Cukupkan bicaramu, mari pakai otak saja.
Kau manusia, lalu aku bertanya "di mana otakmu?"
Apa di kaki, oh atau tidak sama sekali?
Adakah kau tukar dengan subsidi?

Tidak kah sama sekali?
Aku bernyanyi La..la..la...
Kau menyalakan api,
Aku meniti mimpi
Kau rajuki penguasa,
Aku kembali
Kau telah mati.

Tidak kah sama sekali?
Jadilah aku pertanyakan_lagi!
"Salah siapa?"
Tentu bukan aku!
Apa prajurit bersenjata?
Apa mereka yang duduk di kursi empuk?
Oh, mungkin setan bertopeng jelata...


Qaireen Dhia